Hati-hati janji dengan anak!

Beberapa waktu lalu saya menterapi anak dari paman saya.Ia memiliki masalah yang cukup berat mengenai sekolahnya, sering bolos, kecanduan internet dan sekarang sudah keluar dari bangku sekolah SMK. Ini merupakan PR besar bagi keluarga besar saya. Sungguh ini juga merupakan tantangan besar bagi saya yang kerapkali melakukan terapi kepada anak-anak sekolah.

Sudah empat hari saya pulang ke rumah orang tua, dan belum memberikan terapi kepada anak paman saya yang memang tinggal bersama orang tua saya. Beberapa hari saya amati saja apa yang dilakukan setiap harinya. Sesekali sayapun menegurnya.

Barulah pada hari kelima saya merasa 'klik' untuk melakukan terapi. Seusai sholat Isya, kami bertemu dan berbincang di ruang tamu. Saya mengajukan beberapa pertanyaan berkenaan aktifitas sehari-hari dan tentang sekolahnya. Saya merasa cukup mudah untuk melakukan komunikasi dengan anak paman saya ini. Saya melihat dan merasakan ia pun nyaman berkomunikasi dengan saya.

Singkat cerita, dengan mudah ia bisa saya pandu memasuki proses hipnoterapi. Saat dalam kondisi terhipnosis ini, saya bawa ia ke masa kecilnya, saat ia masih berada di kelas 4 SD. Perubahan suara dan gaya bicara menandakan ia benar-benar berada dalam pengalaman masa SD. Dan, cerita awal tentang kebiasaan main game/PS berawal dari sini.

Kemudian, sayapun menelpon paman saya untuk bisa berdialog langsung dengan anaknya ini, yang sedang terhipnosis. Jadi, proses hipnoterapi ini saya hanya membimbing saja untuk masuk dalam kondisi terhipnosis (regresi). Sementara berkaitan penyelesaian konflik atau masalah yang ada pada masa kecilnya dilakukan oleh paman saya.

Melalui dialog di masa kecil ini, terungkaplah kekesalan anak paman saya ini yang kala itu tidak dibelikan PS yang dijanjikan. Paman saya memberikan pengertian bahwa sebenarnya ingin sekali membelikan PS yang dijanjikan bahkan sudah menitipkan uang pada penjual. Sayangnya, PS yang dimaksud tak kunjung didapat.

Anak paman saya terus menanti PS itu dan memendam kekesalan itu. Melalui pengertian yang diberikan serta permohonan maaf paman saya, akhirnya kekesalan ini pun selesai malam itu juga.

Pelajaran berharga yang saya peroleh malam itu, salah satunya adalah hati-hatilah memberi janji pada anak. Ketika berjanji, anak taunya adalah dipenuhi. Jika tidak, ia hanya berpikir orang tuanya ingkar janji. Sebaiknya jika ingin membelikan sesuatu, berilah catatan seperti, nanti dibelikan jika ada rejeki, jika barangnya tersedia dan sebagainya. Alangkah baiknya juga jika pemberian sesuatu diikuti oleh sebuah kewajiban yang harus ditunaikan anak seperti lebih rajin belajar, lebih nurut sama ortu dan sebagainya.

Kisah terapi anak paman saya ini cukup menarik dan banyak pelajarannya. Salah satunya mengenai janji ini. Masih ada kisah dan pelajaran berharga berkaitan terapi dengan anak paman saya ini. Ikutilah kisahnya dalam tulisan berikutnya. Selamat mengikuti dan sampai jumpa lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Hipnoterapi?

Mengenal pikiran bawah sadar?

Hipnoterapi dalam Islam